Manfaat Internet Untuk Meningkatkan Penjualan Ritel
Selama beberapa tahun terakhir
ini, pola berbelanja konsumen mulai berubah, konsumen gemar melakukan riset
pasar untuk mencari informasi, membaca testimoni dan membandingkan sebelum
memutuskan untuk membeli produk tertentu, mulai dari fashion, gadget, hingga mobil
dan perhiasan.
Selain mudah diakses kapanpun
diperlukan, internet juga menyimpan informasi yang berlimpah, sehingga konsumen
dapat mempelajari lebih lanjut sebelum membeli, merencanakan wisata atau hanya
sekedar menentukan makan malam di restoran favoritnya.
![]() |
| Retail Credit @indomaret_jkt1 |
Tentunya peranan social media
yang memiliki pelanggan ratusan juta orang menjadi sebuah kendaraan bagus untuk
menghasilkan profit. Tidak sedikit perusahaan mengambil keuntungan dari peluang
yang disediakan media digital, melalui pesan berbagi (shared) dan penanda (tag)
informasi produk menyebar secara cepat, cara yang mudah dan lebih murah
dibandingkan dengan brosur dan katalog cetak.
Dengan hadirnya internet maka
pola hubungan antara dunia maha dengan konsumen harus didefinisikan kembali. Sekarang perusahaan berukuran kecil menengah
dapat berbagi informasi produk dan layanan mereka ke seluruh dunia. Siapapun
dapat berpromosi dengan beriklan dan menjangkau pelanggan pada skala global,
yang beberapa tahun lalu hanya dilakukan perusahaan multinasional skala besar
saja.
Tentunya keuntungan besar lain
dari beriklan di internet adalah kenyataan bahwa internet tidak mengenal batas
waktu dan wilayah layaknya membuka sebuah usaha 24 jam sehari dan 7 jam semmggu
non-stop, konsumen dapat mengakes di manapun mereka inginkan.
Beberapa studi menunjukkan bahwa
konsumen yang ingin membeli notebook televisi maupun perangkat gadget lainnya bergantung
pada internet untuk meneliti produk yang mereka inginkan. Bahkan, Google di
Kanada menemukan fakta keberadaan internet sama pentingnya seperti saran dari keluarga
atau teman untuk mengambil keputusan.
Secara umum, pengusaha ritel
seharusnya mulai memberikan perhatian peranan iklan digital turut mempengaruhi
penjualan di toko, karena iklan digital menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan
konsumen untuk berbelanja.
Jika dilihat lebih spesifikk lagi
bahwa konsumen mendapatkan informasi produk untuk mengambil kepuasan dan
halaman website produsen atau merek (55 persen), artikel (53 persen), forum (43
persen), media sosial (43 persen), iklan banner (42 persen) dan situs
video-shanng (37 persen).
Transisi industri media dari
tradisional ke format digital semakin berlanjut, pada periode 2012 secara
global belanja iklan digital mencapai titik tertinggi Untuk tahun 2013 diprediksikan
akan mengalami kenaikan 14.6 persen. Riset GroupM menyatakan bahwa belanja
digital selama 2012 mencapai US$99 milyar mencakup wilayah tertinggi di Amerika
Utara, Asia Pasifik dan Eropa Barat, diprediksikan tahun ini mencapat U351 13.5
milyar.
Hasil riset mengkonfirmasikan
bahwa peluang tmtuk mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan secara
online (dinamakan web influenced sales) sangatlah tinggi Sedikitnya setengah
pengguna internet berkomitmen untuk membeli merek tertentu namun kenyataannya
masih memungkinkan untuk berubah pada saat mereka mulai riset online dan
menemukan beberapa merek yang lebih menarik. Internet ternyata lebih disukai
sebagai referensi untuk membuat keputusan untuk membeli dibanding bertanya kepada
teman dan keluarga.
Sebanyak 54 persen dari pembeli
mencari informasi secara online, sementara hanya 26 persen meminta pendapat
keluarga dan teman-teman mereka, hanya 6 persen mencatat TV sebagai sumber informasi.
Seberapa penting internet digunakan konsumen untuk mengambil keputusan?
Nielsen mengemukakan pencarian informasi di
website lebih berpengamh daripada iklan TV atau bahkan saran dari ahli atau
kabar mulut ke mulut. Sebuah laporan riset terbaru Nielsen mengenai sentimen
pembelian produk baru menyimpulkan bahwa pengaruh internet terhadap keputusan
pembelian produk baru yang signifikan di semua wilayah dan di berbagai kategori
produk.
Kategori produk teratas yang
pembeliannya paling dipengaruhi oleh Internet adalah produk elektronik (81
persen), peralatan (77 persen), buku (70 persen), musik (69 persen) dan fashion
(69 persen).
Sementara secara global kategori
produk konsumen yang pembeliannya dipengaruhi oleh internet adalah makanan dan
minuman (62 persen), produk kebersihan pribadi (62 persen), produk kesehatan
pribadi (61 persen), perawatan rambut (60 persen) .
Kabar baik bagi pemegang merek
adalah bahwa 55 persen konsumen pembeli dipengaruhi juga oleh informasi yang
tersedia pada halaman website merek produk idamannya. Ini menunjukkan bahwa
pembeli mengetahui apa yang mereka inginkan.
Mereka mencari informasi lebih
banyak lagi langsung kepada sumbernya dalam hal ini website produk dimaksud.
Namun ada hal menarik, walaupun
riset diatas menyatakan bahwa internet mempengaruhi keputusan belanja konsumen,
tapi untuk jenis produk tertentu beberapa riset menunjukkan bahwa konsumen
masih menyukai untuk mencoba produk di toko.
Menurut Dick Cantwell, Vice
President and Global Lead 0f Retail for Cisco Internet Business Solutions
Group, konsumen pengunjung saat ini mengaharapkan adanya paduan antara belanja
online dengan belanja konvensional di toko.
Untuk mengalihkan konsumen
menjadi pembeli maka peritel perlu menggabungkan layanan online dengan fisik untuk
memenuhi tuntutan konsumen digital saat ini.
Mengapa konsumen melakukan riset secara online namun tetap membeli barang di toko ?
Studi Forrester tahun 2011
menyatakan 51 persen orang ingin segera mendapatkan produk idamannya dengan
membeli di toko terdekat, kedua. 42 persen menganggap bahwa untuk memastikan
produk perlu dilihat secara langsung, menyentuh dan mencobanya sebelum membeli,
pengalaman ini sagatlah penting. Ketiga, dengan riset di internet sangat
menghemat waktu tenaga dan biaya, sehingga dapat segera memutuskan ke toko mana
untuk membeli produk tersebut.
Mengacu pada penelitian
Forresters yang merilis prediksi terbaru mengenai total penjualan industri
ritel di Amerika. Pada tahun 2015
merupakan masa-masa kritis dimana akan lebih banyak penjualan yang dipengaruhi
internet ataupun penjualan online dibanding penjualan di toko secara
konvensional. Hal ini bagi para produsen maupun peritel yang menjual produk
tentunya harus menjadi pertimbangan serius untuk mengantisipasinya.
Konsumen
dipengaruhi oleh media online setiap kali mereka mengunjungi website peritel
untuk mencari informasi produk, mengkonsultasikan review dari website tersebut
terhadap suatu produk atau jasa, atau mempelajarinya dari situs social media
untuk bagaimana mendapatkan produk tersebut.
Bagi peritel usaha untuk mengkonversikan
pengunjung website menjadi pembeli di toko harus mengintegrasikan sebuah pola
komersial baru yang disebut multi-channel commerce dengan perspektif kunsumen
sentris, yaitu integrasi operasional ritel yang memungkinkan pelanggan untuk
bertransaksi melalui berbagai saluran yang terhubung, seperti toko ritel, toko
online, mobile-store, aplikasi smartphone, telepon untuk melakukan browsing,
berbelanja atau layanan pasca penjualan lainnya.
Kemajuan teknologi memberdayakan
konsumen untuk mampu memanfaatkan internet untuk kemudahan hidup, hal yang sama
berlaku juga bagi peritel untuk melangsungkan usahanya. Sejumlah besar konsumen
melakukan riset online sebelum memutuskan untuk membeli produk.
Penting bagi
peritel untuk membantu konsumen menyediakan informasi yang lengkap dan akurat,
melalui sindikasi media online-offline yang sering digunakan konsumen dengan
konten pilihan yang diperlukan oleh konsumen.
Ritel 2013
